Alhamdulillah, berkat ilmu kelautan 10 negara sebelum lulus S1 :)

Bismillahirrahmanirrahim.

Ini sebenernya cerita lama di blog aku https://bit.ly/2LCf8AV dan karena cerita ini sampai sekarang aku masih suka dapet message lewat email karena banyak anak-anak muda Indonesia yang khususnya kuliah di Perikanan dan Ilmu Kelautan merasa salah jurusan dan ga bangga dengan apa yang mereka kerjakan. Selain ada sedikit revisi dari segi penulisan dan aku mau pindahin semua di blog baru aku Saltwatergirl akhirnya aku sedikit remake untuk nambahin pembelajaran baru dalam hidup.  Semoga bermanfaat dan menginspirasi untuk semua anak kelautan ya!

2 July 2011,

Banyak  orang mempertanyakan, Kiran masuk kelautan mau jadi apa? nelayan? popeye? putri duyung? apalagi saat itu teman-teman saya semasa SMA banyak yang masuk fakultas hukum, kedokteran, ekonomi ataupun komunikasi dan saya lain sendiri.

Namun, saya pun sangat bersyukur, karena sepertinya Allah SWT selalu mengabulkan doa dan keinginan saya. Bahkan ujungnya malah selalu melebihi ekspektasi hingga saya ngerasa selalu beruntung. Kalau kata mamah, kita hidup sesuai prasangka kita, begitu pun Allah bekerja – sesuai prasangka umatnya. 😀

Sewaktu kecil, dua cita-cita terbesar saya adalah menjadi arsitek atau diplomat. Mamah selalu cerita dari kecil jaman belum bisa ngomong dengan rambut ikal seperti indomie saya paling suka diajak ke perumahan atau liat bangunan-bangunan cantik, dan ketika sudah semakin besar keluarga sering ngajak ke toko buku bekas di Cikapundung atau Gramedia dan saya selalu ke bagian arsitektur dan interior dari berbagai negara. Jadi teringat, rasanya seneng banget mamah beliin buku bekas IKEA jaman kecil – dan rasa bahagia nya masih nempel. Dari situ, saya pun sering mengikuti lomba gambar dan alhamdulillah selalu pulang membawa piala. Dari situ saya selalu bercita-cita ingin keliling dunia. Melihat keindahan dunia.

Ditambah, saat itu om saya seorang diplomat yang kerjaannya setiap tiga tahun berganti tugas pindah negara. Denmark, Maroko, Belgia dan masih banyak lainnya. Dalam hati saya kagum banget melihat keluarga nya menjadi well educated dan kalau ngomong mau berantem atau bercanda pake bahasa inggris udah kaya air keran bocor hehehe. Rasanya kepengen banget sedangkan waktu itu bahasa inggris saya basic banget. Bahkan pembantunya aja jadi bisa berbahasa perancis. Buset mbak, saya aja les kaga lancar-lancar.hehehe

Dari situlah saya bercita-cita bisa memiliki keluarga seperti om saya itu. Anak-anaknya menjadi pintar, berwawasan luas, charming juga. Dan kerjaannya, travelling yang memang juga merupakan passion saya.

Cita-cita menjadi arsitek pun terkikis, saya ga pernah gambar-gambar lagi sejak smp. Menjelang persiapan masuk kuliah dan sibuk mencari kuliah akhirnya saya pun kembali mengingat cita-cita saya dan memutuskan arsitek, design interior, atau hubungan internasional.

Namun singkat cerita akhirnya saya pun terdampar di Ilmu Kelautan. Namun sejak awal saya kuliah di perikanan dan ilmu kelautan ini, sama sekali ga ada rasa suram buat saya. Malah saya suka banget. I feel in the right place. Dan mungkin bagusnya, karena banyaknya pertanyaan teman-teman saya kelautan bakal jadi apa? (thanks guys!)  saya pun semakin pengen nunjukin bahwa kuliah dimana aja tuh ga masalah selama memang kita suka, fokus, dan malah yang sedikit itu yang biasanya dicari. Intinya dimana pun bagus sih asal kita bisa mengexplorebidang itu dan memanfaatkan segala kesempatan.

Bermula dari seorang senior yang mendapatkan beasiswa ke Korea saat itu. Dan walaupun Korea memang bukan negara impian saya, tapi kehebohan film-film korea yang definitely know how to pull your heart (bikin baper) bikin saya penasaran pengen nyoba kesempatan itu. Saya pun bertanya dengan senior saya itu, dia berujar bahwa sebelum lulus dia mempunyai target untuk bisa menginjak lima negara. Dimana pikiran saya dalam hati saat itu, “Wow keren banget, kalo saya? Aduh ga kebayang deh ga mungkin”.

Tapi saya lupa, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT yang maha kaya dan kalau memang Allah telah meridhoi, akan semudah membalikkan telapak tangan. Kun fayakun!

Saya pun mencoba beasiswa yang sama, namun saat itu saya hanya masuk 10 besar dan memang lima besar saja yang terpilih. kegagalan saya saat itu membuat saya masih penasaran dan mencobanya lagi dan gagal lagi.

Dan beasiswa korea ini menjadi titik balik buat saya. Saat itu ditengah usaha mati-matian saya dan segala doa yang saya curahkan juga keyakinan akan lolos, malah saya tidak lolos dan sebenarnya kalau saya mengingat masa interview saya saat itu, sangat menguji kesabaran dan keikhlasan saya.

Namun karena salah satu prinsip hidup saya yang yakin bahwa Allah selalu ngasih yang terbaik untuk saya, alhamdulillah kesedihan itu bisa cepat saya atasi. Soalnya yang bikin saya sedih itu lebih kepada keinginan saya membuat bangga kedua orang tua saya, dimana tahun itu keluarga saya sedang mendapat ujian yang cukup besar. Namun sayang nya saya belum bisa membawa kabar baik untuk mereka.

Kekuasaan Allah memang besar, di tengah isakan tangis saya saat itu curhat sama mamah, “Mah, maaf yah ade ga keterima”, senyuman dan perkataan mamah pun sangat-sangat menenangkan. “Loh, ade kenapa harus nangis, ade kan mau ke Eropa dari dulu, bukan ke Korea. Sebentar lagi juga ade ke Eropa” dan lalu kami pun berpelukan. Lega, karena baik mamah atau papah ikhlas saya ga keterima dan merasa anaknya memang telah melakukan usahanya dengan maksimal.

Bener emang, perkataan seorang Ibu itu memang pamungkas ajaib bin selalu didengar sama Allah SWT.

Satu minggu berselang, Saya iseng diajak teman mencoba pertukaran pelajar, proses, interview et voila! saya keterima, dan ke Eropa, bahkan saya berangkatnya lebih cepat dibandingkan keberangkatan beasiswa ke korea saat itu.

Dan subhanallah, di Ukraine saya tergabung dalam World Without Border project yang terpilih menjadi “The Best Social Project” in AIESEC around the world. Pengalaman saya selama 1,5 bulan disana? SUPERB! ampe sedih banget pas pulang.

Pulang dr Ukraine, efeknya seperti domino banget buat saya. Saya ditawarkan pihak Fakultas untuk mengikuti test dari Perusahaan Mitsui, perusahaan multi-national company berasal dari jepang yang menurut majalah Forbes keluaran Amerika, Mitsui masuk kedalam 10 perusahaan terbaik dunia dalam bidang trading. Disaat bersamaan, selain mengikuti tes internship di PT.Mitsui saya pun mencoba mendaftar Beasiswa dari pemerintah Turkey dan alhamdulillah saya tepilih untuk mendapatkan beasiswa selama dua bulan di Turkey dan magang di Perusahaan sebesar PT. Mitsui.

Subhanallah, jadi urutannya di tahun 2010 kemarin :

Februari – april 2010 : Student Exchange di Odessa, Ukraine

Mei – Juni 2010 : Mendapatkan pengumuman granted Turkish Scholarship dan PT.Mitsui Internship Program

Juli 2010 : Saya magang di PT. Mitsui dan berpengalaman bekerja bersama staff Mitsui yang mayoritas Japanese dan juga banyak mendapatkan valuable experience, sampai masuk koran jepang.

Juli – September 2010 : Beasiswa belajar bahasa Turkey di Tomer, Bursa.

Oktober 2010 : Terpilih menjadi delegasi IYCF di makassar dan melakukan Ekspedisi Takabonerate di hari sumpah pemuda bersama Kapal KRI, Gubernur, Rektor Unhas, dan Finalis Putri Indonesia.

November akhir : Mendapat Informasi mengenai World Student Environment Summit di Swedia dan dipercaya menjadi perwakilan Universitas Padjadjaran.

Dan diawal 2011 ini, Saya berhasil mengunjungi 6 negara Eropa untuk project European Trees and Coral for Indonesia.

Saya pun sangat terharu akan kebesaran Allah. Di Ilmu kelautan saya mendapatkan kumpulan dari passion saya. Saya jadi sering travelling karena memang banyak melakukan  praktikum, dari kecil saya juga suka berenang, Saya malah jadi bisa beberapa kali menjadi perwakilan Unpad di ajang internasional, dan ternyata ada mata kuliah pengelolaan pesisir yang mengingatkan saya pada arsitektur walaupun berbeda, namun saya pun dapat belajar merancang bagaimana pengelolaan wilayah pesisir yang baik bagi tourism, industri, dan wilayah konservasi.

Sebenarnya hal yang ingin saya sampaikan, kita harus punya cita-cita sebesar-besarnya. Jangan ragu meminta itu semua kepada Allah SWT, karena memang Allah kan berjanji barangsiapa meminta kepada Nya maka akan dikabulkan.

Selain itu kita harus tetap memiliki prasangka baik sama Allah. Saya kemudian berpikir,

apakah kalau saya berkuliah HI, akan berkesempatan ke 10 negara ini sebelum lulus??apakah akan sering travelling sama seperti saya berkuliah di Ilmu kelautan?

Kalau saat itu saya ke Korea, mungkin entah kapan saya bisa ke Eropa dan malah dengan tidak berangkatnya saya ke Korea, Allah menggantikannya 10 kali lebih besar.

Saya pun semakin tersadar, bahwa Allah pasti mengabulkan doa setiap hambanya. Biarkan kita menuliskan segala cita-cita dan keinginan kita, namun berikan penghapus dan pensilnya kepada Allah, Biarkan Ia yang menghapus yang kurang tepat buat kita dan menggantinya dengan yang jauh lebih baik buat kita.

Kegagalan juga bukan hal yang harus ditakuti, malah kalau kita mau berbesar hati dan melihatnya dari sisi lain, akan banyak hal baik dan hikmah yang kita dapat.

Life is a mystery, but Life is beautiful, and life is once. So live your life to the fullest. Find your passion and keep on the track.

Fast forward, diakhir tahun 2018 ini aku pun sudah menginjakkan kaki di 22 negara dan karena laut aku berkesempatan menjadi fellow United Nations untuk memperdalam isu Ocean Governance di New York selama 3 bulan dan berlanjut di salah satu pusat riset terbaik mengenai Ocean Governance selama empat bulan di Australia. Berkat laut, aku sekarang sedang melanjutkan kuliah postgraduate di salah satu universitas terbaik di dunia dengan beasiswa penuh dari Chevening Scholarship.

Terima kasih Laut. I fall deeply into you.

love,

K

Share: